oleh

Kambu, Warisan Budaya Leluhur Tiuh Tuha Gedung Batin yang Terus Dijaga

banner 468x60

Way Kanan, Lampung (Nanratu.id) – Di aliran Sungai Way Besai, wilayah Tiuh Tuha Gedung Batin, Kecamatan Umpu Semenguk, Kabupaten Way Kanan yang di kenal dengan kampung wisata yang masih terdapat rumah kayu asli turun temurun yang bisa berumur/ berdiri mencapai ribuan tahun, masih tersimpan sebuah warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi, yaitu kambu, tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan secara tradisional melalui teknik bepisol dan ngejala. Kambu yang dibuat dari anyaman rotan (huwi).

banner 336x280

Sejak dahulu, masyarakat adat Tiuh Gedung Batin memanfaatkan Sungai Way Besai sebagai sumber kehidupan. Setelah menangkap ikan menggunakan cara tradisional seperti bepisol dan ngejala, hasil tangkapan disimpan sementara di dalam kambu agar tetap hidup sebelum dibawa pulang atau dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat. Keberadaan kambu menjadi bagian penting dari kearifan lokal yang menunjukkan hubungan harmonis antara masyarakat adat dengan alam sekitarnya.

Menurut cerita dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di lingkungan masyarakat adat Tiuh Gedung Batin, kambu tersebut merupakan peninggalan Sunan Tuha, yang menjadi salah satu simbol perjalanan sejarah serta kehidupan masyarakat adat di wilayah tersebut. Hingga kini, keberadaan kambu tidak hanya dipandang sebagai sarana penangkapan ikan, tetapi juga sebagai benda bersejarah yang mencerminkan identitas budaya, adat istiadat, serta nilai-nilai gotong royong masyarakat.

Saat ini, kambu tersebut dirawat dan dijaga oleh Tarmizi, bergelar adat Ratu Marga, yang berasal dari Tiuh Tuha Gedung Batin. Perawatan yang dilakukan merupakan bentuk komitmen untuk melestarikan peninggalan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi muda serta menjadi bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Way Kanan.

Pelestarian kambu menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar benda peninggalan masa lalu, melainkan juga sumber pengetahuan mengenai cara hidup masyarakat adat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan berkelanjutan. Nilai sejarah yang melekat pada kambu diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam menjaga identitas budaya daerah sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap warisan leluhur.

Melalui pelestarian peninggalan ini, masyarakat Tiuh Gedung Batin berharap sejarah, adat, dan budaya yang diwariskan oleh para leluhur, termasuk peninggalan Sunan Tuha, akan tetap lestari dan terus dikenal sebagai bagian penting dari khazanah budaya Lampung, khususnya di Kabupaten Way Kanan.

“Kambu bukan sekadar tempat menyimpan hasil tangkapan ikan, tetapi menjadi simbol kearifan masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan antara manusia, sungai, dan alam. Keberadaannya mengajarkan bahwa setiap warisan leluhur memiliki nilai sejarah, budaya, dan jati diri yang wajib dirawat serta diwariskan kepada generasi berikutnya.”

“Kambu peniggalan ninik puyang,
Sai jadi sejarah di Way Besai.
Bepisol ngejala nggunjung budaya,
Marai Adat mak lebon ditelon zaman.

Way ngehurikko anak marga,
Iwa dijaga mak serakah.
Pusaka tuha harus gham jaga,
Marai budaya tetap wat dan bu piil.

Arti :
“Kambu adalah peninggalan leluhur,
Yang menjadi sejarah di Sungai Way Besai.
Bepisol dan ngejala menjunjung tinggi budaya,
Agar adat tidak hilang ditelan zaman.

Sungai menghidupi anak keturunan marga,
Ikan dijaga dan tidak diambil secara serakah.
Pusaka leluhur harus kita pelihara,
Agar budaya tetap hidup dan bermartabat.

“Selama Way Besai tetap mengalir, selama itu pula sejarah kambu harus tetap dikenang. Warisan leluhur bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dipelajari, dijaga, dan diwariskan kepada anak cucu sebagai jati diri masyarakat adat Tiuh Tuha Gedung Batin.”

Penulis :
Tarmizi Gelar Ratu Marga.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *