
Oleh : Prof. Admi Syarif, PhD.
penulis buku 50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri”
Lampung (Nanratu.id) — Ada kisah tentang Prof. Dr. Ir. H. Sitanala Arsyad, Rektor pertama Universitas Lampung, yang patut terus diceritakan kepada generasi penerus Unila.
Bukan karena beliau pernah menduduki jabatan tertinggi di kampus. Bukan pula semata-mata karena namanya tercatat dalam sejarah sebagai rektor pertama Unila, yang memimpin pada periode 1973–1981.
Tetapi karena ada sebuah keteladanan sederhana yang justru semakin langka: beliau mampu memisahkan dengan tegas antara milik negara dan milik pribadi.
Konon, ketika beliau menjabat Rektor Unila, Pemerintah Provinsi Lampung pernah menghibahkan sebuah rumah (sebelah stadion) di kawasan Pahoman, di sekitar kompleks stadion, untuk ditempati sebagai fasilitas kedinasan rektor.
Namun Prof. Sitanala tidak menerimanya. Beliau tegas memilih tidak mengambil fasilitas tersebut.
Bagi sebagian orang, rumah di lokasi strategis mungkin merupakan sebuah kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Tetapi bagi Prof. Sitanala, jabatan bukanlah jalan untuk memperkaya diri.
Dan fasilitas yang melekat pada jabatan adalah fasilitas negara—bukan hak pribadi apalagi berfikir untuk dibawa pulang setelah jabatan berakhir.
Keteladanan itu bahkan terlihat dalam perkara yang jauh lebih sederhana: mobil dinas.
Ketika masa tugasnya sebagai rektor berakhir, mobil dinas (menurut cerita mobil dengan jenis Toyota Soluna, belum ada Toyota Alphard ya waktu itu he he he) yang selama ini digunakan untuk menjalankan tugas pun dikembalikan kepada kantor.
Tidak dianggap sebagai kenang-kenangan.
Tidak pula dicari alasan agar kendaraan tersebut menjadi milik pribadi misalnya berfikir mau di dump.
Selesai jabatan, selesai pula hak menggunakan fasilitas jabatan.
Sederhana.
integritas sering kali bukan diuji ketika seseorang tidak memiliki kesempatan untuk mengambil.
Integritas diuji ketika kesempatan itu terbuka lebar, tetapi seseorang memilih untuk tidak mengambilnya.
Prof. Sitanala adalah Rektor pertama Unila. Ia bukan hanya tercatat dalam sejarah sebagai orang yang memimpin Unila pada masa awal perkembangannya. Unila sendiri mengenang beliau sebagai founding father dan sosok yang memiliki dedikasi besar bagi kemajuan universitas. (Universitas Lampung)
Setelah hampir setengah abad kemudian, kisah Sitanala, putra daerah asal kampung Negara Bumi, Lampung Tengah, ini layak kembali kita renungkan. Terutama ketika Unila sedang berbicara tentang Integritas pemimpin dan civitas akademiknya.
Sebab zona integritas bukanlah sekadar slogan yang ditulis spanduk besar yang dipasang di gerbang kampus.
“Maaf Anda Memasuki Kawasan Integritas. Berani Jujur HEBAT!”
Prof. Sitanala telah memberikan sebuah pelajaran yang sangat sederhana:
Jabatan boleh tinggi, tetapi hati harus tetap rendah.
Fasilitas boleh melekat selama menjalankan amanah, tetapi jangan pernah melekat di hati.
Dan ketika amanah itu selesai, tinggalkanlah semuanya dengan bersih.
Karena pada akhirnya, seorang pemimpin tidak dikenang hanya karena apa yang ia bangun selama menjabat.
Ia juga dikenang karena apa yang tidak ia ambil ketika memiliki kesempatan untuk mengambilnya.
Itulah integritas.
Semoga ia menjadi cermin bagi siapa pun yang hari ini, esok, dan tahun depa. dipercaya memimpin Universitas Lampung.
Karena Unila tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pintar membangun gedung dan prestasi.
Unila membutuhkan pemimpin yang ketika datang membawa amanah, dan ketika pergi meninggalkan kehormatan.
Tabik puuun !









Komentar